Thursday, March 11, 2010

Menghadapi 5 Sifat Khas Balita

Menghadapi 5 Sifat Khas Balita

Ada alasan mengapa anak batita mulai menunjukkan sifat egois, agresif, bossy, tapi juga suka menyendiri, dan bahkan pemalu. Semuanya wajar asalkan tidak menetap dan sampai menghambat pengembangan dirinya.

Untuk itulah sifat-sifat khas tersebut tetap perlu diintervensi agar dapat menempati porsinya yang pas dan memberi kesempatan kepada sifat lain yang lebih baik untuk berkembang sebagai karakter anak. Nah, bagaimana mengintervensi ke-5 sifat tersebut?

1. EGOSENTRIS

Sifat yang umumnya muncul pada usia 15 bulanan (atau saat anak sudah sadar akan dirinya/self awareness) ini disebabkan oleh ketidakmampuan si kecil dalam melihat suatu hal dari sudut pandang orang lain. Jadi
semua masalah akan diteropong dari kaca mata dirinya. Lantaran sifat ini juga, anak batita selalu "here and now."

Bila ingin sesuatu harus didapat saat itu juga alias tidak mau menunggu. Misal, saat ia minta es krim pada malam hari ya dia enggak mau tahu harus mendapatkannya saat itu juga. Contoh lain, si kecil
merebut mainan temannya. Meski temannya menangis, ia tidak peduli karena ia "berprinsip" "saya suka, saya mau, maka saya harus dapatkan"

Bila dilihat dari perkembangan kognitif, sifat egois akan menghilang saat usia anak 6 tahun. Karena semakin besar anak, lingkungan sosial akan menuntut anak untuk sadar akan lingkungan, selain sadar diri.
Nah, pada saat usianya menginjak 3 tahun, sebenarnya anak sudah mulai sadar akan tuntutan sosial tersebut namun perlu stimulasi dari orangtua.

Egosentris yang dibiarkan terus---dalam arti anak selalu mendapatkan apa yang diinginkannya tanpa mempertimbangkan adanya aturan-aturan sosial---bisa menetap sampai si kecil beranjak dewasa dan anak akan
dicap buruk oleh lingkungan.

Cara menyiasati

Memang masih agak sulit batita diberi pengertian. Meski ada beberapa anak yang sudah bisa. Namun bagaimanapun di usia batita ini orangtua sudah harus menerapkan aturan-aturan disertai pengertian kepada anak bahwa tidak semua keinginan anak harus terpenuhi. Pada contoh kasus es krim di atas, berilah anak pengertian. Misalnya, "Hari sudah malam, Dek. Mataharinya juga sudah tidur dan tokonya tutup. Saat mataharinya bangun pagi nanti, baru kita bisa beli es krim." Jadi, yang penting adalah aturan harus diberikan secara konsisten.

2. BOSSY ATAU SUKA PERINTAH

Bossy sebenarnya masih berhubungan dengan sifat egosentris. Sifat ini merupakan kelanjutan dari usia bayi di mana anak sebelumnya selalu diladeni. Saat memasuki usia batita dimana anak sudah tidak lagi
bergantung sepenuhnya dengan orang dewasa---dalam arti ia sudah bisa jalan, bicara, dan melakukan apa pun yang diinginkannya- --anak merasa memiliki otonomi. Sikap otonom ini sering dibarengi dengan sikap
menyuruh orang lain demi mendapatkan apa yang diinginkan. Seperti, "Mbak, ambilin susu" atau "Bukain sepatu." Kondisi ini bisa "diperparah" bila ada model orang dewasa di sekitar anak yang selalu bersikap bossy, atau memang anak tidak dibiasakan mandiri.

Yang jelas, sifat bossy tidak akan menghilang dengan sendirinya. Karena anak merasa keenakkan. Ngapain capek-capek melakukan sesuatu kalau hanya dengan menyuruh saja, ia mendapatkan apa yang diinginkan?
Perilaku suka perintah di usia batita jadi bisa dianggap lucu. Tapi begitu anak sudah lebih besar lagi, percaya deh kalau sifat itu akan menjengkelkan banyak orang sehingga ia akan dijauhi teman-temannya.

Cara menyiasati

- Ajarkan kemandirian (dari hal-hal sederhana) secara bertahap seperti cuci tangan sebelum makan, makan sendiri, buka sepatu dan lain sebagainya.

- Jangan menampilkan sikap bossy pada siapa pun (termasuk pada PRT) karena si kecil akan mudah "terinsiprasi" untuk bertingkah laku yang sama.

- Bila anak sudah kadung bossy dan terbiasa main suruh, coba bangun kemandiriannya dan dorong ia untuk mengerjakan segala sesuatunya sendiri. Misal, "Dek coba yuk buka sepatunya sendiri. Mama temani."

3. AGRESIF

Sifat ini sebetulnya sudah tampak sejak usia bayi (terutama pada bayi dengan temperamen sulit). Namun akan semakin kerap kemunculannya di usia batita. Si kecil merasa keinginannya tidak dipahami oleh orang
dewasa (berkaitan dengan komunikasi anak batita yang masih terbatas). Agresivitas juga dapat muncul karena kebiasaan. Misal, anak belajar dari pengalamannya jika ia berteriakteriak atau melempar barang maka
orang akan memenuhi apa pun yang ia inginkan. Atau kalau ia memukul temannya, maka si teman akan memberikan mainan yang diinginkan kepadanya.

Sifat agresif yang tidak diantisipasi bisa menjadi habituasi dan berlanjut hingga usia dewasa nanti. Di saat usia anak tentunya ia akan dijauhi teman-teman, dicap nakal, sehingga pada akhirnya anak sendiri akan menerima bahwa dirinya "trouble maker" hingga ia besar nanti.

Cara menyiasati

* Saat anak tantrum, peluk atau pegang tangan/badannya. Biarkan ia marah. Setelah kemarahannya reda orangtua bisa tanyakan penyebabnya sesuai dugaan atau perkiraan orangtua. Misal, "Adik pasti sedang marah sekali ya karena ibu tidak beli es krim buat kamu sekarang? Ibu tahu, adik ingin es krim. Tapi hari sudah malam, mataharinya sudah tidur dan tokonya sudah tutup. Kalau mataharinya sudah bangun dan tokonya buka, kita nanti beli sama-sama, ya?" Dalam keadaan emosional, anak batita akan bingung mengatakan apa penyebab rasa kesalnya. Lebih baik, kita yang mendefinisikan perasaannya. Cara ini membuat anak merasa dipahami perasaannya.

* Jangan menanggapi agresivitas anak dengan cara yang agresif pula. Contoh, saat ia memukul temannya, jangan kita malah mencubit anak untuk menghentikan aksinya itu. Benar sih anak tidak akan meneruskan pukulannya, namun anak justru memperoleh gambaran bahwa sikap kasar itu diperbolehkan.

* Beri penjelasan. Memang bukan pekerjaan mudah menjelaskan pada anak batita. Karena hanya sekali diberi tahu tidak akan membuatnya patuh dan melupakan sifat agresifnya. Jangan putus asa, lama-kelamaan jika
selalu dijelaskan, anak akan belajar bahwa untuk mendapatkan sesuatu tidak harus dengan sikap agresif.

4. PEMALU

Si kecil kerap bersembunyi di balik kaki ibu/bapak atau terusmenerus memegangi baju kita saat bertemu orang lain? Atau kala ditanya, anak memilih diam dan menundukkan kepala? Kalau memang ya, bisa jadi memang ia pemalu. Namun bisa juga karena ia takut pada orang asing atau tidak terbiasa bertemu dengan orang banyak.

Umumnya, sifat pemalu anak yang karena pembawaan pribadi (diturunkan dari orangtua yang juga pemalu dan tidak suka bersosialisasi) akan terbawa sampai dewasa. Meski tak ada dampak buruk pada anak, namun bisa membuat anak kehilangan peluang dalam dalam berbagai hal, dibandingkan dengan anak yang aktif dan berani. Sifat pemalu juga membuat anak sulit mengembangkan diri dan beradaptasi dengan lingkungan sosialnya.

Cara menyiasati

Untuk menghadapi anak pemalu sebaiknya orangtua sering membawanya untuk bersosialisasi. Latih sejak dini dengan memasukkan anak pada lingkungan sosial dimana banyak anak bermain seperti di taman bermain.
Awalnya mungkin anak merasa takut, jadi temani sementara waktu.

Setelah beberapa lama biasanya anak bisa ditinggal dan berbaur bersama anak-anak lainnya. Bisa juga anak diajak ke tempat-tempat pertemuan atau ketika orangtua bertemu dengan kenalan di jalan, anak bisa diminta untuk mengenalkan dirinya atau menyapanya. Misal, "Sayang, kenalin nih. Ini tante Diba. Ayo salam. Beri tahu siapa nama Adek."

5. PENYENDIRI

Sifat penyendiri pada usia batita---selain dikarenakan perkembangan kognitif anak dalam melihat sesuatu masih dari sudut pandangnya sendiri---perkemban gan sosialnya pun masih belum berkembang baik. Anak
baru mulai sadar akan adanya tuntutan dari lingkungan sosial di usia 3 tahun ke atas. Lantaran itulah, saat bermain, anak tampak soliter (lebih suka bermain sendiri) meski ada teman di sampingnya. Sifat
penyendiri akan menghilang setelah usia batita. Apalagi jika anak sudah berelasi dengan teman-temannya. Namun pada beberapa anak memang sifat penyendiri ini bisa menjadi kebiasaan yang terbawa pula sampai
nantinya.

Soal dampak, sebenarnya sifat penyendiri tak jadi masalah. Bahkan hingga usia dewasa pun sebetulnya sifat ini terkadang diperlukan. Karena adakalanya manusia perlu sebagian waktu untuk menyendiri dan
sebagian waktunya lagi bersosialisasi. Hanya kalau sifat penyendiri si batita sudah keterlaluan, misal, dia lebih memilih menyendiri sampai 24 jam terus-menerus, ya tidak boleh dibiarkan. Sebab anak tetap perlu beradaptasi dan bersosialisasi dengan lingkungan sosial yang ada.

Cara menyiasati

Sama seperti halnya anak yang pemalu, orangtua perlu mengajak anak dalam kegiatan bersama dan bersosialisasi. Mulailah dari lingkungan orang dekat, seperti taman bermain dekat rumah yang banyak dikunjungi anak-anak tetangga, dan acara keluarga agar anak mengenal sepupu dari keluarga ayah dan ibunya. Setiap saat, ajaklah anak berkomunikasi dan jangan lupa sediakan waktu untuk mendengarkan dan menanggapi setiap ujarannya. Semakin ia percaya bahwa kita bersedia menjadi pendengarnya yang sabar, anak akan semakin berani bicara dan lebih bersikap terbuka.


(Dedeh Kurniasih/Nakita)


Friday, March 5, 2010

Menebalkan Rambut Bayi Anda

Tips Menebalkan Rambut Bayi Anda

 Mengapa rambut bayi (yang baru lahir) cenderung tipis dan tidak lebat?
Hal ini disebabkan karena rambut yang tumbuh dari folikel saat janin masih di rahim ibu belum sepenuhnya luruh atau rontok. Karena itu padasebagian masyarakat kita ada kebiasaan untuk menggunduli rambut bayinya saat bayi berusia di atas 40 hari.

Tradisi ini bertujuan agar rambut bawaan dari rahim itu rontok dan digantikan dengan rambut baru yang lebih lebat dan hitam (tergantungdari warna rambut kedua orangtuanya). Ketika Anda mencukur rambut bayi harus sangat hati-hati, karena kondisi kulit kepala bayi masih sangatlembut (lunak). Karena itu biasanya pada masyarakat suku bangsa tertentu lebih mempercayakan kegiatan tersebut pada dukun bayi yang
jelas-jelas lebih berpengalaman.

Kemudian kalau bayi Anda menyusu pada ibunya, hal ini akan sangat membantu kesuburan rambut bayi. Maka sang ibu pun dianjurkan untuk mengkonsumsi sari kacang hijau atau susu kedelai. Sehingga air susu
ibu (ASI) yang diminum bayi akan mempengaruhi kesuburan dan pertumbuhan rambutnya. Jangan khawatir bahwa rambut bayi yang tipis ini sebagai keturunan (genetik) dari leluhurnya misalnya.

Jika pun kondisinya demikian sebagai orangtua Anda masih bisa mengupayakan agar rambut buah hati Anda tubuh subur dan hitam legam. Caranya dengan rajin menggosok-gosokkan lidah buaya atau kemiri
(bakar) yang sudah dihancurkan.

Tapi hati-hati jangan sampai mengenai mata. Karena itu sebaiknya lakukan saat bayi masih tidur dan sesudah itu bilas (lap) bersihdengan air hangat (gunakan sampo bayi saat membilas). Mudah-mudahan
bila ini sering dilakukan bayi Anda akan memiliki rambut yang hitam dan tebal. Dan jadikan kebiasaan seperti ini hingga dia remaja. Semoga berhasil.

Sumber: satumed

Monday, March 1, 2010

Agar Anak Mau Makan Sayur

Agar Anak Mau Makan Sayur

Melihat anak tumbuh dan berkembang dengan sempurna adalah harapan setiap orangtua. Tak heran jika untuk mewujudkannya anak diberi makanan yang mengandung cukup gizi dan vitamin.

Salah satu cara untuk memenuhi kecukupan gizi dan vitamin adalah dengan mengonsumsi sayur. Namun bagi sebagian orangtua hal tersebut sulit dilakukan karena anak tidak suka makan sayur. Kalau sudah begini orangtua biasanya membujuk dengan iming-iming agar anak mau menyantap
sayur.

Sebenarnya ada cara lain yang dapat dilakukan agar si buyung dan si upik mau makan sayur tanpa harus dibujuk, antara lain sebagai berikut:

Buatlah penyajian sayur semenarik mungkin. Misalnya, jika memasak sup, anda bisa membentuk potongan wortel menyerupai bunga matahari atau menambahkan makaroni dengan bentuk yang menarik. Gunakan pula mangkuk yang cukup besar dengan motif atau gambar yang juga menarik untuk menimbulkan selera makan si anak.

Jika anak tetap tidak mau memakan sayur, anda bisa menyajikan sayur tersebut dalam bentuk jus yang dicampur dengan es, misalnya wortel, tomat atau mentimun. Agar lebih menambah rasa, tambahkan sedikit gula atau madu yang juga baik untuk kesehatannya. Jangan lupa agar tampilannya menarik, hiaslah gelas dengan sedotan warna-warni, payung kecil atau kreasi lainnya.

Hal lain yang dapat dilakukan adalah menyusun sayur di atas piring sedemikian rupa sehingga menarik untuk dilihat dan disantap. Anda bisa menggunakan mentimun, wortel, buncis dan seledri untuk membuat wajah orang di atas piring. Berkreasilah semaksimal mungkin dengan sayur yang lain agar nafsu makan si anak bisa muncul.

Terkait dengan poin di atas, anda juga bisa mengajak si kecil untuk ikut berkreasi membentuk makannya menjadi sedap dipandang. Dari langkah ini pun diharapkan seorang anak akan terangsang daya imajinasinya.

Saat memasak, ajaklah si kecil untuk turut andil dalam kegiatan ini, misalnya mereka bisa membantu mencuci sayuran yang akan dimasak atau jika anak sudah cukup besar biarkan mereka memotong sayuran tersebut dengan pengawasan orangtua tentunya. Biarkan pula mereka sesekali mengaduk sayur yang tengah dibuat. Dari sini diharapkan anak akan mencoba memakan apa yang telah dimasaknya.

Langkah terakhir yang dapat dicoba adalah dengan menyembunyikan sayur di dalam makanan mereka. Misalnya dengan memasukkan sedikit sayur di dalam roti isi. Selamat mencoba.


sumber : perempuan