Thursday, April 15, 2010

Hindari Flu di Musim Hujan

Kiat Hindari Flu di Musim Hujan

PATOKAN yang dulu dipakai oleh orang-orang tua untuk menandai musim, kini sudah sulit diikuti. Misalnya, Desember itu berarti gede-gedenya sumber (air) alias hujan. Januari artinya hujan sehari-hari. Lalu Maret itu singkatan dari 'mak ret' yang berarti hujannya berhenti, sehingga April sudah mulai masuk musim pancaroba untuk menjadi panas.

Tapi apa yang terjadi sekarang? Hujan dan musim sudah tidak bisa diramal lagi. Sekarang hujan deras. Tapi tak lama kemudian panas terik dan malam hari terang bulan. Kota-kota lain pun demikian. Seorang dokter sampai pernah bilang, "Sekarang ini musimnya pancaroba terus."

Buntut-buntutnya, cuaca yang tak jelas seperti ini membuat banyak orang mudah terserang flu dan masuk angin. "Seminggu lalu, tanpa tanda-tanda, ketika sedang asyik bekerja tahu-tahu dari hidung saya sudah menetes cairan pilek," ujar Drs. Wibudi, seorang konsultan keuangan, yang sempat empat hari tidak masuk kantor karena flu berat.

Dalam suhu udara yang rendah, banyak angin, membuat sistem kekebalan tubuh tidak optimal. Akibatnya virus influenza mudah menyerang. Apalagi jika pada saat itu kita sedang dalam kondisi sangat sibuk, kurang istirahat, dan makanan tidak cukup baik akan memudahkan tertular flu dan masuk angin.

Cara Mencegah :
  1. Cara yang paling mudah menghindari flu, adalah menjaga agar stamina tubuh tetap bagus. Tentu saja melalui makanan, olahraga, dan istirahat yang cukup.
  2. Selain itu, sebisa mungkin kita menggunakan saputangan untuk menutup hidung dan mulut, jika orang di dekat kita bersin dan batuk.
  3. Rajin mencuci tangan juga sangat dianjurkan. Mengapa? Ada riset yang menunjukkan bahwa penularan flu banyak terjadi melalui jabat tangan daripada bersin.


    Bagaimana mengatasinya jika flu atau masuk angin sudah menyerang? Menurut para dokter, pada dasarnya flu atau masuk angin akan sembuh sendiri jika kita kita istirahat dan makan dengan gizi yang yang baik, terutama yang bisa menghangatkan tubuh. Adapun gejala flu dan masuk angin dapat dihilangkan dengan minum jamu atau obat yang banyak dijual di pasaran.

    sumber:
    dechacare.com

Sunday, April 11, 2010

Perangai Anak

Gangguan Perangai Anak Harus Dihadapi Dengan Kesabaran

Dalam kehidupan anak-anak, terutama pada anak balita sering kita jumpai adanya kebiasaan-kebiasaan atau tingkah laku buruk pada anak, seperti: mengompol, menghisap ibu jari, persaingan dengan saudara kandung, ketakutan dimalam hari, agresi (suka mengamuk dan marah) dan sebagainya. Perilaku ini sebenarnya bukanlah merupakan penyakit, merupakan hal yang biasa yang harus dapat diatasi oleh orang tua. Gejala ini disebabkan karena pertumbuhan emosi dan jiwa anak yang belum mantap.

Bagaimanakah sikap orang tua terhadap kasus gangguan perangai pada anak? Secara garis besar, orang tua perlu memiliki sikap-sikap sebagai berikut:

1. Janganlah menganggap gangguan perangai tersebut sebagai cacad atau suatu hal yang perlu dikutuk.
2. Orang tua harus mencoba mencari apa sebab atau latar belakanggangguan perangai tersebut.
3. Anggaplah anak sebagai seorang pasien, yang perlu mendapatkan bimbingan dan petunjuk-petunjuk  serta menumbuhkan disiplin pada anak. Hal ini disebabkan karena anak kecil belum dapat membedakan mana yang baik dan mana yang buruk. Juga perlu menumbuhkan rasa hormat anak kepada orang tua.
4. Orang tua berusaha mengatasi masalah yang dihadapi anak tersebut dengan menunjukkan kasih sayang kepada anak, bukan kebencian-kebencian .

Mengompol

Mengompol merupakan gangguan pada anak kecil. Bagi anak yang belum dapat buang air kecil sendiri mengompol masih wajar. Akan tetapi kalau sudah dapat buang kercil, masih mengompol perlu diatasi. Gangguan ini kebanyakan disebabkan faktor psikologis, yaitu karena berkurangnya perhatian dan kasih sayang ibu, misalnya karena perhatian ibu tertumpu pada bayi yang baru lahir. Hal ini menyebabkan anak frustasi.

Orang tua perlu menghadapi dengan sabar, dan menunjukkan perhatian kepada anak. Untuk mencegah mengompol menjadi berlarut-larut, minumnya perlu dikurangi pada waktu malam dan seblum orang tua pergi tidur, anak harus dibawa ke kamar mandijuga perlu diberi janji kalau tidak mengompol akan diberi penghargaan. Hal ini akan menimbulkan kepercayaan pada diri anak.

Gangguan lain yang sering timbul adalah iri hati kepada saudara sekandung terutama pada bayi yang baru lahir. Perhatian ibu biasanya tertumpah pada adiknya, sehingga perhatian kepadanya kurang. Mental si anak seharusnya dipersiapkan untuk menghadapi adik baru tersebut. Dalam mencurahkan kasih sayang dan penghargaan, hendaknya orang tua bersikap tidak membeda-bedakan.

Lemah Lembut

Menghisap ibu jari merupakan kebiasaan yang sering terdapat pada anak. Kebiasaan buruk ini harus dicegah. Orang tua tidak perlu mengomel, tetapi memberitahukan dengan lemah lembut keburukan atau akibat-akibat menghisap jari tersebut, misalnya akan mengurangi kencatikan, merusak gigi dan sebagainya.

Anak sering juga dihinggapi sukar tidur dan takut pada waktu malam hari. Orang tua perlu mencari sebabnya, mungkin karena, kesepian, kalau anak butuh teman, maka mainan seperti boneka dapat menjadi teman anak. Kalau bisa dinyalakan seterang mungkin. Anak kadang-kadang ketakutan setelah mimpi buruk tersebut. Ketakutan akan hilang lenyap, setelah orang tua menjaga sebentar hingga anak tertidur lagi.

Agresi

Gangguan agresi merupakan gangguan yang sering menyebabkan orang tua menjadi panik atau cemas. Anak yang sering marah dan mengamuk dengan menangis atau berguling-guling dilantai sering menimbulkan kebingungan. Perilaku seperti ini biasanya karena anak sering tidak terpenuhi keinginannya.

Namun kebiasaan ini harus dicegah, jangan sampai menjadi kebiasaan. Orang tua jangan meladeni bila anak sedang dalam keadaan demikian. Lama-lama anak akan menyadari bahwa tingkah lakunya adalah tidak benar. Orang tua perlu waspada. Situasi yang dapat menimbulkan pertentangan orang tua dan anak perlu dicegah.

Untuk mencegah terjadinya agresi tersebut, maka anak harus disalurkan kepada kegiatan-kegiatan yang positif, yang bersifat cooperatif (kerjasama) dan competitif (persaingan positif) melalui permainan anak.

Sebagai alat sosialisasi, permainan anak akan dapat mengembangkan peranan-peranan yang lebih luas untuk membantu dalam pembentukan kepribadian yang positif. Ini memerlukan wadah pula, misalnya kelompok bermain, rekreasi dan sebagainya.

Gangguan perangai selain karena faktor psikologis, juga ada kemungkinan merupakan gejala sakit, misalnya anak yang rewel, mungkin karena sakit.(Lukyastirin )


sumber tips : anekatips.bravejour nal

Thursday, April 8, 2010

Melatih dan Mengaksentuasi Indra Balita

Melatih dan Mengaksentuasi Indra Balita
Balita menggunakan indra mereka sebagai alat untuk mengenali dunia di sekitar mereka, suatu pengenalan yang cepat dalam tahap perkembangan saat mereka sangat ingin tahu ini. Bagaimana kita membantu mereka dalam tahap ini?

Sebenarnya, tanpa dorongan dari kita pun, seorang anak balita akan menggunakan sumber natural ini secara insting. Tetapi dengan dorongan yang benar, ia akan menggunakan indranya dengan lebih dalam lagi. Di bawah ini adalah beberapa cara untuk menstimulasi persepsi indra anak Anda dan untuk membantunya menstimulasi indra dengan sendirinya.

Penglihatan

Karena seorang anak balita belum mampu untuk memilih apa yang ia mau lihat dengan sendirinya, semua yang ada dalam batasan visi mereka akan diperhatikannya. Dengan begitu banyak yang bisa ia lihat dan perhatikan, tidaklah mudah bagi matanya yang belum terlatih untuk difokuskan lebih dari sedetik saja. Anda bisa membantunya berlatih untuk berfokus dengan mengarahkan perhatiannya pada satu obyek secara bergantian. Misalnya, saat berjalan-jalan di mal, arahkan perhatiannya dengan menunjuk ke berbagai objek dan bertanya, "Apa yang kamu lihat?"
Dengan itu, ia dapat memfokuskan perhatiannya dan mulai mengenali berbagai macam hal.

Pendengaran

Seperti juga dengan mata, telinga anak Anda juga dipenuhi dengan berbagai suara setiap harinya. Bahkan di rumah pun, persaingan suara sangat ketat: ada suara televisi, bunyi jam berdetik, bunyi-bunyian dari tukang makanan yang lewat di depan rumah, dan sebagainya. Mendorong anak Anda untuk memfokuskan pendengarannya ke satu bunyi saja – menutup bunyi-bunyian yang lain supaya satu bunyi bisa dikenali dengan jelas- adalah latihan yang sangat baik untuk telinga yang masih muda. Musik pun bisa membantunya untuk menjadi pendengar yang baik. Mainkan musik di saat ia bermain, atau bermainlah dengan lagu-lagu anak-anak yang ia sukai.

Penciuman

Penciuman balita biasanya belum bisa membeda-bedakan berbagai bau. Pada umur dimana mereka sudah belajar untuk ke toilet sendiri, mereka mulai bisa membedakan bau-bauan, mengetahui mana yang berbau sedap dan yang tidak. Cara Anda untuk melatih mereka pada tahap ini adalah dengan mengajar mereka mengendus bau-bauan di sekitar mereka, Anda juga harus mengawasi mereka supaya mereka tidak meneruskan menghirup bau-bauan yang berbahaya bagi mereka.

Rasa

Kebanyakan balita lebih tidak mau membuka diri dalam indra perasa dibandingkan indra lainnya. Akan sangat sulit mengajar anak yang tidak mau merasakan yang lain selain rasa manis, misalnya. Tetapi mencoba tidak akan melukainya, dan Anda bisa memulai dengan mengenalkan rasa-rasa baru pelan-pelan di dalam makanannya. Dari mulai pisang yang manis dan lembut, keju yang asin maupun apel yang manis dan renyah, rasa-rasa yang enak untuknya bisa Anda kenalkan dengan porsi yang kecil setiap saat.

Sentuhan

Balita mengenali berbagai macam hal tentang dunia mereka melalui sentuhan. Terkadang, hal ini bisa membuat mereka merusak, seperti merobek majalah atau membanting remote TV. Tetapi Anda bisa mengarahkannya sehingga ia bisa membangun indra yang satu ini tanpa menyusahkan anda. Ajak ia menyentuh berbagai hal dan biarlah ia mengidentifikasi bermacam-macam hal yang ia sentuh. Dan ajarkan dia apa yang boleh dan tidak boleh ia lakukan.

Tentu saja walaupun banyak yang bisa Anda lakukan untuk menstimulasi indra anak Anda, hal yang terpenting yang harus diingat adalah untuk tidak memaksanya. Semua anak perlu waktu untuk mengenali hal-hal tertentu dengan sendirinya. Berhentilah mendorongnya pada saat Anda melihat ia mulai tidak antusias dan biarkan ia menjelajah sendiri.


Monday, April 5, 2010

Intellegensi dan IQ

Intellegensi dan IQ

Menurut David Wechsler, inteligensi adalah kemampuan untuk bertindak secara terarah, berpikir secara rasional, dan menghadapi lingkungannya secara efektif. Secara garis besar dapat disimpulkan bahwa inteligensi adalah suatu kemampuan mental yang melibatkan proses berpikir secara rasional. Oleh karena itu, inteligensi tidak dapat diamati secara langsung, melainkan harus disimpulkan dari berbagai tindakan nyata yang merupakan manifestasi dari proses berpikir rasional itu. Adapun faktor-faktor yang mempengaruhi inteligensi adalah :

Faktor bawaan atau keturunan

Penelitian membuktikan bahwa korelasi nilai tes IQ dari satu keluarga sekitar 0,50. Sedangkan di antara 2 anak kembar, korelasi nilai tes IQnya sangat tinggi, sekitar 0,90. Bukti lainnya adalah pada anak yang diadopsi. IQ mereka berkorelasi sekitar 0,40 - 0,50 dengan ayah dan ibu yang sebenarnya, dan hanya 0,10 - 0,20 dengan ayah dan ibu angkatnya. Selanjutnya bukti pada anak kembar yang dibesarkan secara terpisah, IQ mereka tetap berkorelasi sangat tinggi, walaupun mungkin mereka tidak pernah saling kenal.

Faktor lingkungan

Walaupun ada ciri-ciri yang pada dasarnya sudah dibawa sejak lahir, ternyata lingkungan sanggup menimbulkan perubahan-perubahan yang berarti. Inteligensi tentunya tidak bisa terlepas dari otak. Perkembangan otak sangat dipengaruhi oleh gizi yang dikonsumsi. Selain
gizi, rangsangan-rangsang an yang bersifat kognitif emosional dari lingkungan juga memegang peranan yang amat penting.

Inteligensi dan IQ

Orang seringkali menyamakan arti inteligensi dengan IQ, padahal kedua istilah ini mempunyai perbedaan arti yang sangat mendasar. Arti inteligensi sudah dijelaskan di depan, sedangkan IQ atau tingkatan dari Intelligence Quotient, adalah skor yang diperoleh dari sebuah alat tes kecerdasan. Dengan demikian, IQ hanya memberikan sedikit indikasi mengenai taraf kecerdasan seseorang dan tidak menggambarkan kecerdasan seseorang secara keseluruhan.

Skor IQ mula-mula diperhitungkan dengan membandingkan umur mental(Mental Age) dengan umur kronologik (Chronological Age).Bila kemampuan individu dalam memecahkan persoalan-persoalan yang disajikan dalam tes kecerdasan (umur mental) tersebut sama dengan kemampuan yang seharusnya ada pada individu seumur dia pada saat itu (umur kronologis), maka akan diperoleh skor 1. Skor ini kemudian dikalikan 100 dan dipakai sebagai dasar perhitungan IQ. Tetapi kemudian timbul masalah karena setelah otak mencapai kemasakan, tidak terjadi perkembangan lagi, bahkan pada titik tertentu akan terjadi penurunan kemampuan.

Pengukuran Inteligensi

Pada tahun 1904, Alfred Binet dan Theodor Simon, 2 orang psikolog asal Perancis merancang suatu alat evaluasi yang dapat dipakai untuk mengidentifikasi siswa-siswa yang memerlukan kelas-kelas khusus (anak-anak yang kurang pandai). Alat tes itu dinamakan Tes Binet-Simon. Tes ini kemudian direvisi pada tahun 1911.

Tahun 1916, Lewis Terman, seorang psikolog dari Amerika mengadakan banyak perbaikan dari tes Binet-Simon. Sumbangan utamanya adalah menetapkan indeks numerik yang menyatakan kecerdasan sebagai rasio (perbandingan) antara mental age dan chronological age. Hasil perbaikan ini disebut Tes Stanford_Binet. Indeks seperti ini sebetulnya telah diperkenalkan oleh seorang psikolog Jerman yang  bernama William Stern, yang kemudian dikenal dengan Intelligence Quotient atau IQ.

 Tes Stanford-Binet ini banyak digunakan untuk mengukur kecerdasan anak-anak sampai usia 13 tahun. Salah satu reaksi atas tes Binet-Simon atau tes Stanford-Binet adalah bahwa tes itu terlalu umum. Seorang tokoh dalam bidang ini, Charles Sperrman mengemukakan bahwa inteligensi tidak hanya terdiri dari satu faktor yang umum saja (general factor), tetapi juga terdiri dari faktor-faktor yang lebih spesifik.
Teori ini disebut Teori Faktor (Factor Theory of Intelligence) . Alat tes yang dikembangkan menurut teori faktor ini adalah WAIS (Wechsler Adult Intelligence Scale) untuk orang dewasa, dan WISC (Wechsler Intelligence Scale for Children) untuk anak-anak.

Di samping alat-alat tes di atas, banyak dikembangkan alat tes dengan tujuan yang lebih spesifik, sesuai dengan tujuan dan kultur di mana alat tes tersebut dibuat.

Inteligensi dan Bakat

Inteligensi merupakan suatu konsep mengenai kemampuan umum individu dalam menyesuaikan diri dengan lingkungannya. Dalam kemampuan yang umum ini, terdapat kemampuan-kemampuan yang amat spesifik.
Kemampuan-kemampuan yang spesifik ini memberikan pada individu suatu kondisi yang memungkinkan tercapainya pengetahuan, kecakapan, atau ketrampilan tertentu setelah melalui suatu latihan. Inilah yang disebut Bakat atau Aptitude. Karena suatu tes inteligensi tidak dirancang untuk menyingkap kemampuan-kemampuan khusus ini, maka bakat tidak dapat segera diketahui lewat tes inteligensi.

Alat yang digunakan untuk menyingkap kemampuan khusus ini disebut tes bakat atau aptitude test. Tes bakat yang dirancang untuk mengungkap prestasi belajar pada bidang tertentu dinamakan Scholastic Aptitude Test dan yang dipakai di bidang pekerjaan adalah Vocational Aptitude Test dan Interest Inventory.
Contoh dari Scholastic Aptitude Test adalah Tes Potensi Akademik (TPA) dan Graduate Record Examination (GRE). Sedangkan contoh dari Vocational Aptitude Test atau Interest Inventory adalah Differential Aptitude Test (DAT) dan Kuder Occupational Interest Survey.

Inteligensi dan Kreativitas

Kreativitas merupakan salah satu ciri dari perilaku yang inteligen karena kreativitas juga merupakan manifestasi dari suatu proses kognitif. Meskipun demikian, hubungan antara kreativitas dan inteligensi tidak selalu menunjukkan bukti-bukti yang memuaskan.

Walau ada anggapan bahwa kreativitas mempunyai hubungan yang bersifat kurva linear dengan inteligensi, tapi bukti-bukti yang diperoleh dari berbagai penelitian tidak mendukung hal itu. Skor IQ yang rendah memang diikuti oleh tingkat kreativitas yang rendah pula. Namun semakin tinggi skor IQ, tidak selalu diikuti tingkat kreativitas yang tinggi pula. Sampai pada skor IQ tertentu, masih terdapat korelasi yang cukup berarti. Tetapi lebih tinggi lagi, ternyata tidak ditemukan adanya hubungan antara IQ dengan tingkat kreativitas.

Para ahli telah berusaha mencari tahu mengapa ini terjadi. J. P. Guilford menjelaskan bahwa kreativitas adalah suatu proses berpikir yang bersifat divergen, yaitu kemampuan untuk memberikan berbagai alternatif jawaban berdasarkan informasi yang diberikan.

Sebaliknya, tes inteligensi hanya dirancang untuk mengukur proses berpikir yang bersifat konvergen, yaitu kemampuan untuk memberikan satu jawaban atau kesimpulan yang logis berdasarkan informasi yang diberikan. Ini merupakan akibat dari pola pendidikan tradisional yang memang kurang memperhatikan pengembangan proses berpikir divergen walau kemampuan ini terbukti sangat berperan dalam berbagai kemajuan yang dicapai oleh ilmu pengetahuan.


sumber : balitacerdas


Thursday, April 1, 2010

Hentikan Rengekan si Kecil


Hentikan Rengekan si Kecil

Pusing rasanya mendengar anak terus memaksa dan merengek saat meminta sesuatu yang kadang tak ada batas. Jika begitu keadaannya, inilah beberapa tip menenangkan mereka. Lebih dari 50 persen anak-anak dalam survei mengatakan, memiliki produk-produk tersebut membuat mereka lebih diterima teman-temannya dan tentunya juga menambah rasa percaya diri.

Jody Johnston Pawel, pemulis The Parent’s Toolshop : The Universal Blueprint for Building a Healthy Family mengatakan, orang tua perlu mengajarkan anak-anak mereka bagaimana melihat kualitas internal diri dan kemampuan untuk menentukan harga diri. Orang tua pun harus mendidik mereka bagaimana menanggapi tekanan dari teman-temannya dengan cara yang lebih bisa diterima, dengan menjadi ramah terhadap siapapun, misalnya.

Pawel menawarkan 10 cara terbaik untuk para orang tua agar bisa mengendalikan anak-anak saat mereka mulai merengek, di antaranya :

  •        Sampaikan alasan penolakan yang masuk akal.
  •        Pahami apa yang dipikirkan dan dirasakan anak, tapi kemudian membenahinya secara tegas.
  •        Berikan pilihan jawaban “ya”
  •        Menyarankan alternatif pilihan jawaban yag bisa diterima.
  •        Mendorong anak untuk menabung sehingga tidak terus-menerus meninta saat ingin memiliki suatu barang.
  •        Siapkan biaya pengeluaran ekstra unutk sebuah merek yang dipilihnya nanti.
  •        Biarkan anak memilih satu jenis barang dari beberapa pilihan yang ada.


Sumber : Babel Pos