Tuesday, June 15, 2010

Yang Diperlukan Anak agar Bermental Sehat

Yang Diperlukan Anak agar Bermental Sehat

UNTUK bisa tumbuh secara sehat, anak-anak tidak cukup hanya mendapatkan makanan, olahraga, dan rumah yang baik. Mereka juga butuh cinta tanpa syarat dari orangtuanya.

“Ngapain coba bokap gue nyeramahin orang tiap hari? Dia itu kolektor film porno, selemari penuh...” ujar seorang remaja berusia 17 tahun yang positif mengidap HIV. Sebutlah namanya Boy, telah berhubungan seksual sejak usia 13 tahun. Sudah tak terhitung jumlah perempuan yang pernah berhubungan dengannya, tak terhitung pula sudah berapa kali ia melakukannya.

Mengapa Boy melakukannya? Ia mengaku bosan, muak, kecewa, dan marah dengan sikap orangtuanya yang menurutnya terlalu munafik. Sebagai ahli dakwah yang populer dan sering muncul di TV, ayahnya menanamkan peraturan agama secara kaku dan ketat kepada anak-anaknya sejak kecil.

Di sisi lain Boy melihat ayahnya di rumah tiap hari menonton film-film porno, sendirian. Sementara si ibu tipe perempuan yang lemah dan tunduk patuh sepenuhnya pada suami. Boy kecewa kepada ayah dan ibunya, yang dinilainya hanya bisa memerintah, memerintah, dan memerintah.

Ada lagi Ike, sebutlah begitu namanya. Sebagai anak keluarga berada, dia dengan mudah mendapatkan semua yang diinginkannya. Ke sekolah diantar sopir dengan mobil pribadi yang mewah, uang saku tak terbatas, apa pun bisa dibelinya.

Nyatanya Ike tumbuh sebagai anak yang gelisah, kesepian, dan sangat longgar dalam urusan moral. Orangtuanya hampir tak pernah berkomunikasi dari hati ke hati dengannya. Mereka sibuk, jarang di rumah, tetapi melimpahi anak dengan harta.

Mental dan Fisik
Boy dan Ike adalah contoh betapa sebagai anak mereka tidak mendapatkan apa yang dibutuhkan untuk tumbuh sehat. Namun, boleh jadi ayah dan ibu mereka tidak menyadari bahwa apa yang terjadi pada anak-anak tersebut merupakan dampak dari ketidaktahuan atau keteledoran orangtua.

Sebetulnya banyak sekali kebutuhan anak-anak untuk bisa tumbuh sehat. Dari segi fisik anak-anak sejak dalam kandungan membutuhkan:
-    nutrisi yang baik dan sesuai kebutuhan
-    istirahat dan tidur yang cukup
-    olahraga sesuai takaran
-    imunisasi sesuai kebutuhan
-    lingkungan tinggal yang sehat

Boleh jadi semua orangtua yang membeli tabloid gaya hidup sehat ini bisa memenuhi kebutuhan fisik seperti di atas. Meski demikian, dengan terpenuhinya kebutuhan fisik tersebut belum berarti anak-anak akan tumbuh sehat jika kebutuhan untuk memiliki mental yang sehat tidak terpenuhi.

Kebutuhan itu antara lain:
-    cinta tanpa syarat dari ayah, ibu, dan keluarga
-    memiliki kepercayaan diri dan rasa harga diri (self esteem) yang tinggi
-    punya kesempatan bermain dengan anak-anak lain
-    mendapat dorongan dan dukungan dari guru dan orang-orang yang mengasuhnya
-    tinggal di lingkungan yang aman dan terlindung
-    adanya pedoman dan disiplin yang jelas

Cinta Tanpa Syarat
Mengacu pada Asosiasi Kesehatan Mental Nasional, Amerika Serikat, cinta, rasa aman, dan penerimaan harus menjadi “jantung” bagi setiap keluarga. Anak-anak perlu tahu bahwa cinta orangtua tidak tergantung pada prestasi anak-anak. Kesalahan dan/atau kekalahan harus diterima. Dengan demikian, rasa percaya diri akan tumbuh di rumah yang penuh dengan cinta dan perhatian tanpa syarat.

Banyak orangtua tanpa sadar sering membuat anak merasa tidak diterima dan tidak disayang karena prestasi, sikap dan perilaku, atau kondisi fisiknya tidak sesuai harapan orangtua. Akibatnya, banyak anak yang kemudian lari mencari kompensasi atau melakukan tindakan penghukuman terhadap sikap orangtuanya.

Bagaimana dengan soal menumbuhkan kepercayaan diri dan self esteem yang tinggi pada anak-anak?

Sangat disarankan orangtua memberikan dorongan bagi anak untuk mengenal dan mempelajari hal-hal baru, serta menumbuhkan hasratnya untuk mengeksplorasi lingkungan. Keterlibatan, komunikasi aktif, dan perhatian orangtua akan menumbuhkan kepercayaan dan harga diri anak.
Orangtua pun perlu memahami bahwa anak butuh tujuan yang realistis, sesuai ambisi dan kemampuan masing-masing. Dengan bantuan orangtua, anak dapat memilih aktivitas yang bisa mengembangkan kemampuan dan kepercayaan dirinya.

Sikap jujur orangtua merupakan tonggak bagi anak. Karena itu, bersikaplah jujur pada anak, tidak perlu menyembunyikan kegagalan Anda dari mata mereka, sebab anak perlu belajar pula bahwa orangtua bukanlah manusia yang sempurna.

Sebaliknya, jika anak mengalami kegagalan, orangtua tidak diharapkan bersikap kasar, sinis, sarkastis, menghakimi, atau menyalahkan. Yang dibutuhkan anak adalah penerimaan dan dorongan yang mampu membesarkan hati mereka untuk bisa bangkit.

Pedomannya Jelas
Boy begitu kecewa dan marah kepada ayahnya, figur yang menanamkan nilai-nilai moral dan disiplin keras kepadanya. Ia kecewa karena ayahnya tidak konsekuen. Di satu sisi ia sosok yang menanamkan hal-hal baik, di sisi lain ia melakukan apa yang ditabukan kepada anaknya. Si anak jadi bingung, mana pedoman yang harus dipegangnya, omongan atau perbuatan ayahnya?

Anak-anak, sebagai anggota keluarga, perlu belajar tentang peraturan dan nilai-nilai yang berlaku di dalam keluarga. Peraturan dan nilai-nilai itu sendiri harus jelas, adil, konsisten, dan konsekuen dijalani oleh orangtua yang menegakkannya.

Anak-anak pun perlu tahu bahwa setiap anggota keluarga bertanggung jawab atas perbuatannya, dan apa konsekuensinya jika melanggar peraturan dan nilai-nilai yang diberlakukan itu.

Karena itu:

-    Bersikaplah sabar dan realistis dengan harapan Anda, karena perkembangan anak tergantung pada cinta dan dukungan Anda.
-    Perlihatkan contoh yang baik karena Anda tidak mungkin mengharapkan adanya pengendalian diri dan disiplin diri dari anak-anak jika Anda sendiri tidak melakukannya.
-    Jika Anda harus mengkritik, kritiklah perbuatannya, bukan pribadi si anak. Lebih baik bilang, “Kelakuanmu jelek sekali,” bukan “Kamu memang anak yang jelek!”
-    Berikan alasan yang jelas mengapa Anda menerapkan disiplin dan nilai-nilai tertentu, dan apa konsekuensinya jika tidak diterapkan.
-    Sampaikan perasaan Anda karena kadang orangtua kehilangan kontrol, tetapi setelah itu meminta maaflah jika Anda melakukan kesalahan.

Bemain Bersama
Bagi anak-anak, bermain itu sangat menyenangkan. Dari aktivitas menyenangkan itulah anak belajar kreatif, mengenal dan memecahkan masalah, mengontrol diri, berempati, berbagi, dan sebagainya. Bermain itu penting bagi kesehatan fisik dan mental anak.

Anda perlu mengubahnya jika masih memiliki persepsi bahwa bermain itu hanya buang waktu. Beri kesempatan anak untuk bermain dengan teman sebaya. Bahkan, orangtua adalah teman bermain yang sangat baik karena hubungan emosional yang positif bisa terbangun.

Yang pasti, jangan menjadikan TV sebagai pengganti kehadiran Anda. Bagaimanapun, bermain yang sehat membutuhkan interaksi langsung dengan manusia lain. Anda tidak mau anak-anak “diasuh” oleh kotak bergambar itu, bukan?

Widya Saraswati

Friday, June 11, 2010

Meremehkan Kemampuan Anak


Meremehkan Kemampuan Anak

O
rang tua selalu dihadapkan pada kondisi yang selalu dinamik, di satu sisi mempunyai cita-cita ideal pada anaknya, sementara di sisi lain anak melakukan hal yang tidak sesuai dengan keinginan dan cita-cita ideal orang tuanya. Misalnya, keinginan orang tua tidak ditanggapi positif oleh aksentuasi perilaku anak yang berakibat orang tua meremehkan setiap kemampuan yang dimiliki oleh anak-anaknya.

Meremehkan anak-anak dan sedikit sekali memberikan dorongan serta anjuran kepada mereka. Misalnya, orang tua berusaha menyuruh mereka diam manakala mereka lagi asyik berbicara. Bahkan, saya selalu diejek, begitu pula obrolan juga senantiasa diperolok-olok, yang hal itu menyebabkan anak kurang mempunyai kepercayaan pada dirinya, ia kurang berani berbicara apalagi mengeluarkan pendapat. 

Mencaci maki mereka apabila melakukan kesalahan, mengumpat-ngumpat mereka apabila mereka gagal dan kalah. Sedangkan, ayah merasa bangga dan sombong dengan berbuat seperti itu. Dengan demikian, ada jarak psikologis antara kedua belah pihak sehingga tidak mungkin lagi si ayah dapat mempengaruhi anak-anaknya.

Mengejek mereka bilamana mereka istiqamah (konsekuen dalam agama). Sikap seperti ini merupakan fenomena pelecehan yang paling berat. Oleh karena itu, jika Anda dapati ada di antara orang tua yang suka meremehkan anak-anaknya apabila di antara mereka itu ada yang bertakwa, berperilaku baik, shaleh, konsekuen dalam beragama, dan mendapatkan Hidayah (dari Allah), sehingga anak-anak tersebut sesat dan berbalik haluan. Akibatnya, stelah peristiwa itu, mereka menjadi beban atas diri ayah dan sebagai penyebab timbulnya berbagai bencana buat dia.

Tidak memberikan kesempatan kepada mereka untuk mengoreksi dan mengadakan perubahan yang lebih baik. Ada orang tua yang memarahi anaknya hanya karena kesalahan dan kekeliruan yang sepele. Bahkan, bisa jadi orang tua tidak dapat melupakan kesalahan itu. 

Apabila si anak mencuri, ia dipanggil dengan panggilan “hai pencuri”. Apabila ia berdusta ia dipanggil dengan sebutan “wahai pendusta”. Seolah-olah kesalahan-kesalahan tersebut mrpk pukulan keras yang tidak mungkin dapat pudar dan merupakan tanda keaiban yang tidak kunjung sirna. Dari sini si anak itu berkembang, sedangkan pada dirinya tertanam perasaan bahwa ia adalah pencuri atau pendusta. Dengan demikian, ia tidak dapat melepaskan diri dari aibnya, disamping ia tidak mendapatkan orang yang dapat membantu mengatasi masalahnya itu.

Sikap-sikap yang saya sebutkan di muka merupakan sikap apriori orang tua terhadap anak-anaknya. Adapula Orang tua selalu menginginkan anaknya punya cita-cita yang tinggi, bahkan tidak jarang pula yang memaksakan kehendak atas keinginan yang diinginkannya. “Nak, kamu jadi ini aja atau jadi itu aja. Jangan jadi anu!” demi memuluskan keinginannya itu orang tua memasukkan pilihan ekskul di sekolahnya, padahal anak tidak menginginkan ekskul pilihan orang tuanya. 

Kalau kurang dengan pilihan ekskulnya di sekolah, orang tua lantas mendatangkan guru les untuk mengasah dan menambah kompetensi anaknya akan keinginannya itu. Jangan salahkan anaknya bila tidak semangat dalam belajarnya, tidak semangat mengikuti kegiatan ekskul di sekolah atau ogah-ogahan ketika guru lesnya datang ke rumah.

Untungnya, semasa kecil orang tua saya tidak terlalu membebaniku mempunyai cita-cita yang tinggi. Bagi beliau, cukup menjadi orang yang bermanfaat di dunia, negara, dan agama sudah cukup. Padahal dalam hati kecil saya punya cita-cita menjadi guru besok kalau sudah besar. Cita-cita jadi guru itu terpatri dalam dada dan selalu saya ingat di setiap kali menjelang tidur, bangun tidur, dan berangkat ke sekolah.

Pernah juga cita-cita ini saya utarakan kepada teman sekelas, dan mereka semua memberikan sorakan dengan nada mengejek. “Masa , laki-laki punya cita-cita jadi guru?” ejekan beberapa teman sekelas itu tidak seratus persen saya salahan. Bisanya, kalau teman-teman sekelas ditanya Ibu/bapak guru maka mereka akan menjawab bahwa cita-cita mereka menjadi dokter, pilot, polisi, atau insinyur. Bagiku cita-cita menjadi guru adalah cita-cita yang mulia satu tingkat lebih baik menurutku setelah menjadi “ibu”.

Dengan bekal kebebasan pilihan atas cita-cita itu, saya ingin memberikan kepercayaan kepada orang tua saya bahwa saya akan mewujudkan cita-cita itu, saya akan tetap ingin selalu mewujudkan keinginan sederhana orang tua saya menjadi orang yang bermanfaat di dunia, negara, dan agama. 

Meski sekarang saya menjadi guru di sekolah dasar di Sangata – wilayah terpencil yang kurang punya akses – dan di suatu sekolah yang menampung anak-anak karyawan pertambangan. Berawal menjadi guru di sanalah akan saya bangun mimpi-mimpi dan cita-cita orang tua saya yang secara spesifik tidak beliau sebutkan tapi tetap saya patri dalam dalam dalam kalbu sanubariku “menjadi guru bagi diri sendiri, sebelum menjadi guru orang lain”.

Berbekal motto ini, saya tidak ingin menggurui, saya tetap ingin menjadi pembelajar yang baik. Meskipun secara profesi saya sebagai guru, itu hanya masalah profesi tapi sejatinya saya tetaplah menjadi seorang pembelajar. Pembelajar yang selalu belajar dari anak didik-anak didik saya, temen-temen guru, dan belajar dari kehidupan nyata. Amin Allahumma Amin .. (*)

Sumber : Internet

Saturday, June 5, 2010

Anak Gagap Jangan Digertak

Anak Gagap Jangan Digertak

ANAK-ANAK yang mengalami kegagapan dalam berbicara, ternyata lebih sering mendapat gertakan dibandingkan anak yang tidak gagap. Semakin parah kegagapan mereka, akan semakin sering pula gertakan yang diterima.

“Bbbbebebe.......bebe.....” Ari yang berusia sembilan tahun itu tak segera dapat meluncurkan kata “betul” dari mulutnya, saat harus menjawab pertanyaan dari gurunya. Yang terdengar kemudian justru teriakan teman-teman di kelasnya dengan bersama-sama melontarkan satu kata, “Dor!”

Ari tertunduk malu, ia tampak tidak berdaya menghadapi gertakan keras yang memotong kata yang hendak diucapkannya. Lebih-lebih ejekan dan suara tawa berseliweran dari teman-teman sekelasnya.

Sayangnya guru di kelas tidak cukup tegas memberikan perlindungan bagi murid yang mengalami gangguan wicara akibat gagap itu. Senyum tipis bahkan tersungging di bibir sang guru, meskipun setelah itu terucap peringatan tanggung, “Ssssttt.... anak-anak tidak boleh begitu. Beri kesempatan Ari untuk menjawab.”

Dengan situasi seperti itu, yang terjadi hampir setiap saat, Ari akhirnya lebih suka menarik diri dari pergaulan. Ia tumbuh sebagai anak yang pemalu, pendiam, dan lebih suka menghabiskan waktunya untuk belajar, sehingga nilai-nilai rapornya selalu bagus. Ari tumbuh sebagai anak laki-laki yang tampan dan cerdas, dengan bakat melukis yang bagus, tetapi gagap saat berbicara.

Anak Laki-Laki
Gagap dapat ditandai dengan ciri-ciri suara mulut yang berulang (terjadi repetisi), jaraknya panjang antara satu kata dengan kata berikutnya, atau mengalami blokade ketika akan mengucapkan sebuah kata.

"Penyebab gagap ini tidak tunggal, melainkan merupakan kombinasi yang kompleks antara faktor biologis dan kesalahan dalam proses belajar wicara," ujar William Murphy, peneliti di Department of Speech, Language and Hearing Science, Purdue University, AS.

Seorang anak dapat dideteksi mengalami kegagapan jika selama enam bulan atau setahun ia menunjukkan gejalanya terus-menerus. Biasanya dalam keluarga juga terdapat riwayat orang yang sudah lebih dulu mengalami kegagapan. Dalam hal ini biasanya lebih banyak terjadi pada anak laki-laki.

Di Indonesia, kita tidak pernah tahu berapa jumlah orang yang mengalami gagap. Namun, di Negara Paman Sam diperkirakan sekitar 5 persen anak pra sekolah dan 1 persen orang dewasa mengalami gagap.

Tingkat kekacauan saat berbicara ini sangat berbeda-beda pada setiap orang yang mengalami kegagapan. Ada yang tingkat kegagapannya tidak terlalu parah, tetapi hal itu sudah bisa menyebabkan penderitanya menarik diri dari pergaulan dan enggan berpartisipasi dalam percakapan karena merasa minder atau rendah diri.

Sering Digertak
Dalam berbagai kesempatan kita bisa menyaksikan bagaimana anak-anak yang sudah mengalami penderitaan akibat gagap dalam berbicara ini, harus semakin tersiksa oleh tingkah laku teman-temannya atau bahkan oleh orang dewasa lain yang tidak cukup bijaksana.

Anak-anak ini biasanya digertak sedemikian rupa ketika yang bersangkutan sedang mengalami kesulitan untuk mengeluarkan kata-kata dari mulutnya. Akibatnya, mereka menjadi semakin kecil hati, rendah diri, tidak nyaman, takut dan enggan untuk berbicara.

Menurut National Stuttering Association, AS, penelitian membuktikan bahwa anak-anak yang gagap berbicara justru lebih sering mengalami gertakan dibandingkan anak-anak lain. Dan semakin buruk kegagapan yang dialami seorang anak, semakin sering pula yang bersangkutan mendapat gertakan.

Dalam buku terbaru keluaran Purdue University berjudul Bullying and Teasing: Helping Children Who Stutter, di mana Murphy juga ikut menulis, dijelaskan bahwa bagi anak-anak yang gagap, gangguan dan gertakan dari teman-temannya justru membuat mereka lebih gelisah dan menderita dibanding gangguan wicara itu sendiri.

Mungkin itu pula sebabnya meskipun anak-anak itu sudah mendapatkan terapi wicara dan telah mengalami kemajuan dalam keterampilan berbicara, persoalan tidak dengan sendirinya terlepas dari mereka.

Anak-anak itu tetap saja memiliki perasaan negatif tentang dirinya dan kegagapannya, ketika mereka tumbuh semakin besar. Keterampilan mereka berbicara yang boleh jadi sudah tidak memperlihatkan sisa-sisa kegagapan, masih tetap dibayangi oleh rasa malu dan minder, yang diperoleh dari gangguan dan gertakan-gertakan yang telah dialami.

Sangat Terganggu
Di sisi lain, orangtua tidak begitu yakin apa yang sebaiknya dan seharusnya dilakukan jika anak mereka yang gagap mendapat gertakan dan gangguan dari teman-temannya.  Sebagian orangtua menyarankan anak-anak supaya membalas gangguan yang diterimanya. Yang lain menganjurkan untuk mengabaikan saja gertakan yang didapat, dan menjauh dari teman-teman yang suka menggertak dan mengganggu.

Namun, menurut Murphy, anak-anak tidak bisa sungguh-sungguh mengabaikan gangguan dan gertakan yang sering diterimanya itu karena memang mereka merasa sangat terganggu.
Melakukan serangan balik terhadap anak-anak atau orang lain yang mengganggu juga tidak menyelesaikan masalah, bahkan mungkin mendatangkan lebih banyak masalah dengan anak-anak yang suka menggertak itu.

Mengatasi kegagapan tidak semudah yang orang sering ucapkan ketika menghadapi anak gagap: “Pokoknya tenang dan kalem saja kalau mau berbicara.” Saran ini mungkin cocok bagi anak-anak yang grogi, tetapi bukan itu yang diperlukan oleh anak yang gagap.
Yang pasti, gagap pada masa anak-anak dapat diatasi dengan terapi wicara.

Terapi yang dilakukan ketika masih kanak-kanak akan lebih mudah meraih keberhasilan dibanding saat yang bersangkutan sudah dewasa. Salah satu contoh orang yang pernah mengalami kegagapan di masa kanak-kanak adalah Winston Churchill.

Untuk mengatasi perasaan negatif serta rasa malu akibat kegagapan yang pernah dialami itu, alangkah baiknya jika anak-anak mendapatkan pendampingan dari psikolog, selama diperlukan. Para guru di sekolah sangat diharapkan kontribusinya agar anak-anak yang gagap tidak menjadi semakin terpuruk oleh ulah teman-temannya, akibat sering menerima ejekan dan gangguan dari mereka.

Ngomong-ngomong, apakah Anda sebagai orangtua juga suka mengganggu dan menggertak anak Anda yang gagap?

Widya Saraswati

Tuesday, June 1, 2010

Memahami dan Mengatasi Perilaku Jahil

Memahami dan Mengatasi Perilaku Jahil

Di masa eksplorasi, anak jelas akan mengeksplorasi apa saja yang dianggapnya baru dari lingkungan sekitarnya. Beberapa perilaku eksploratifnya sering dianggap nakal tapi mampu membuat orang tuatersenyum, tertawa terbahak-bahak, atau bahkan terkaget-kaget.
Berikut 6 perilaku jahil yang paling sering didapati pada anak batita. Langkah penanganannya diberikan oleh Molly Marsal, Psi., dari Yayasan Kesejahteraan Anak Indonesia (YKAI).

1. JAHIL

Banyak sekali kejahilan si kecil yang membuat orang tua tersenyum dikulum. Saat si ibu nonton telenovela, contohnya, si kecil yang masih berumur dua tahun sekonyong-konyong mematikan teve lalu sembunyi di balik pintu. Sikap seperti itu, tutur Molly, muncul karena di usia ini batita memang sedang asyik-asyiknya mencoba berbagai aksi sambil menunggu reaksi apa yang didapat dari lingkungannya. Anak yang jahil mematikan teve tentu bukan tanpa maksud. Ia justru sangat menikmati proses sebab-akibat yang dirasakan lingkungannya.

Secara tidak langsung bukankah anak akan penasaran, reaksi apa yang akan ditunjukkan si ibu saat tevenya dimatikan. Marah? Bingung? Atau justru cuma senyum-senyum seraya mencari-cari dirinya di tempat persembunyian? Jika reaksi terakhir yang ditunjukkan orang tua, anak akan mendapatkan kesenangan dari perilakunya dan cenderung akan melakukannya berulang-ulang. Perilaku ini tentu masih bisa ditolerir jika dilakukan sekali dua kali dan tidak sampai menghambat aktivitas orang tua. Sementara bila dilakukan terus-menerus, otomatis orang tua akan terganggu kenikmatannya nonton teve.

Mengatasinya? Orang tua hendaknya memberikan pengertian kepada anak bahwa perilaku tersebut tidak sepantasnya dilakukan. Kalau responsyang didapatnya selalu berupa senyuman atau tawa, anak sama sekali tidak tahu perbuatan tersebut masuk kategori kejahilan yang bisa membuat orang dewasa kesal.

Selain mengarahkan, orang tua juga harus tetap konsisten dengan aturan yang ditegakkan. Jangan sampai hari ini dilarang, lalu besok boleh. Satu hal yang juga perlu dicatat, orang tua juga hendaknya tidak menunjukkan sikap jahil. Bila tidak, bukan tidak mungkin anak akan membalikkan kata-kata orang tuanya. Repot, kan?

2. GEMAR MAINKAN BARANG BARU

Sering, kan, mendengar kejadian tragis mengenai orang tua yang sangat kesal karena ponsel mahalnya dicemplungkan si kecil ke dalam gelas. Dalam kondisi seperti itu, tetaplah kendalikan emosi dan jangan tersulut amarah. Perilaku ini muncul karena anak selalu ingin tahu. Apalagi saat melihat barang baru yang menarik. Ponsel, contohnya, anak mana yang tak tertarik pada benda mungil yang mengeluarkan bunyi khas. Belum lagi desain ataupun efek getar dan kerlap-kerlip lampu ritmik saat menerima panggilan. Kalau kemudian timbul idenya untuk mencemplungkan ponsel itu ke dalam air, mungkin ia tengah membayangkan perahu atau kapal selam yang bisa menyorotkan sinar lampunya dalam air.

Memang, orang tua hendaknya tidak membatasi daya eksplorasi anak. Biarkan ia memainkan ponsel tersebut, tapi orang tua hendaknya melakukan tindakan pencegahan agar kerusakan barang berharga tidak terjadi. Caranya dengan menyingkirkan benda seperti itu dari hadapan si kecil. Jika tidak memungkinkan, orang tua mau tidak mau harus
memonitor perilaku anaknya. Ingat, anak tidak tahu perbuatan ini adalah salah. Ia sama sekali buta informasi bahwa benda-benda elektronik akan rusak fatal jika dimasukkan ke dalam air.

3. MENJAHILI HEWAN

Bukan hal aneh jika anak usia ini sangat senang menjahili hewan. Ada saja tingkahnya yang membuat orang tua terkaget-kaget, semisal mengikat kedua kaki anak ayam sehingga tak bisa berjalan. Atau, mencencang ekor capung agar tak bisa terbang tinggi untuk dibuat mainan. Di satu sisi, anak akan menemukan keasyikan tersendiri saat mengamati bagaimana si anak ayam berjalan tertatih-tatih atau si capung terbang sempoyongan.

Dalam hal ini, ungkap Molly, anak pun tengah mengeksplorasi objeknya, hanya saja caranya salah. Meskipun begitu, orang tua sebaiknya tidak serta merta melarang anak, melainkan lihatlah seberapa sering anak melakukannya. Amati pula apa motif tindakannya. Bisa jadi anak mengikat capung supaya binatang tersebut tidak lepas darinya. Jika ini motifnya, orang tua harus memberikan alternatif. 

Semisal dengan memasukkan capung tersebut ke dalam "kandang" kecil agar tidak lepas dan bisa dibawa-bawa ke mana pun ia pergi. Alternatif berikut, alihkan si kecil pada aktivitas lain yang bisa berguna seperti menerangkan kenapa capung bisa terbang. Dengan begitu, anak tidak cuma bermain, tetapi juga mengambil manfaat dari aktivitas bermainnya. Yang tidak kalah penting adalah mengarahkan anak untuk menyayangi binatang.

Caranya tak susah, cukup perlihatkan tayangan tentang binatang. Tentu saja jangan lupa jelaskan bahwa binatang adalah makhluk hidup seperti halnya manusia yang bisa merasakan sakit, kepanasan, kedinginan dan sebagainya. Libatkan anak dalam pemeliharaan atau perawatan binatang seperti memberi selimut, makan, minum, bahkan mengajaknya bermain dan berjalan-jalan.

4. MENYIKSA BINATANG

Yang satu ini tingkatannya sudah amat mengkhawatirkan. Ada kejadian dimana seorang ibu dengan napas terengah-engah memasuki ruangan sebuah biro konsultasi psikologi. Ia mengeluhkan sikap anaknya yang dinilainya sangat aneh, "Tadi pagi anak saya memasukkan anak kucing kemdalam kulkas. Saya mendapati anak kucing itu sudah membeku di freezer kulkas itu. Mengapa dia begitu tega ya? Apakah dia punya kelainan?" tanya si ibu.

Kasus yang diutarakan ibu tersebut sebetulnya bukan kasus tunggal. Kemungkinan, ada banyak ibu lain yang mengalami peristiwa sama atau bahkan lebih mengerikan. Amat beralasan bila para ibu begitu khawatir membayangkan anak mereka mengalami gangguan jiwa yang bisa membahayakan dirinya maupun orang lain. Namun, orang tua tak perlu khawatir berlebihan. Menurut Molly, "Orang tua jangan tergesa-gesa mencap si kecil mengalami gangguan kejiwaan, apalagi. Soalnya, anak usia ini belum tahu secara tepat apakah perilaku yang ditunjukkannya termasuk kategori sadisme atau bukan."

Boleh jadi, lanjutnya, anak sudah tahu mengenai konsep sakit dan terluka. Ia sudah tahu bila tangannya teriris benda tajam akan terluka dan berdarah. Anak pun tahu air dalam gelas kalau disimpan dalam freezer akan membeku. Justru berbekal pengetahuan inilah, anak terdorong membuktikan rasa penasarannya. Dalam hal ini, anak ingin tahu apa jadinya kalau kucing dimasukkan ke dalam freezer. Apakah juga akan jadi es mambo, misalnya. Berikanlah pengertian kepada anak bahwa perilakunya tergolong sadis atau jahat. Sampaikan dengan bahasa sederhana yang mudah dimengerti anak.

Katakan misalnya, "Lo kok kamu masukin kucing ke kulkas? Kasihan dong, dia bakal kedinginan atau mati." Selain itu, orang tua juga harus segera melakukan tindakan tegas berupa pelarangan. Jika tidak, mungkin anak tidak tahu kesalahan dari perbuatannya, sehingga akan terus mengulanginya. Terlebih jika ia menemukan keasyikan tersendiri dari perilaku tersebut. Boleh jadi ia akan mengalihkan korbannya ke objek hidup lain, semisal teman-temannya. Jika orang tua tidak bersikap tegas, Molly mengkhawatirkan perbuatan ini akan terus menetap hingga anak beranjak dewasa. Berdasarkan sebuah penelitian di Amerika, dikabarkan anak-anak yang berperilaku sadis saat dewasa ternyata pernah menyiksa binatang selagi mereka kecil.

5. SENANG "MENGGODA" ANAK LEBIH KECIL

Perilaku ini hampir dialami oleh semua anak batita yang memang sedang dalam masa agresif. Tak heran jika mereka begitu gemar menjahili anak lain, terutama yang lebih kecil, dengan cara menjambak, memukul, atau mencubit. Lewat perilaku itu, anak ingin mengetahui lebih jauh
dampaknya. Saat melihat korbannya menangis, si batita justru menangkapnya sebagai sebuah peristiwa yang mengasyikkan. Meski di lain pihak ia juga tahu perilakunya bisa membuat lingkungannya marah. 

Makanya, setelah berbuat anak biasanya akan bersembunyi. Selain itu, anak juga ingin diakui eksistensinya. Anak merasa dirinya lebih kuat dan lebih besar ketimbang si korban. Anak pun sudah bisa memperkirakan korbannya tidak akan berdaya saat dia melakukan tindakan agresif. Itulah sebabnya, yang dipilih adalah sosok yang lebih lemah dari dirinya.

Kemungkinan lain, ulah ini timbul karena anak tidak bisa menyampaikan keinginannya dengan baik mengingat kemampuan berbahasanya masih agak terbatas. Tak jarang ia merasa lebih mudah berkomunikasi secara fisik, semisal memukul sambil merebut mainan temannya hanya karena ia ingin memilikinya. Untuk mencegahnya, orang tua harus lebih dulu menggali apa yang menyebabkan si kecil bertindak agresif. Jika si kecil menginginkan sesuatu, orang tua bisa bilang. "Oh, kamu ingin main mobil-mobilan itu ya? Tunggu ya, tapi jangan mukul adek."

Orang tua juga sebaiknya melakukan tindakan pencegahan dengan cara memegang tangan anak saat ia sedang memukul sambil dengan tegas mengatakan, "Tidak boleh." Tentu saja orang tua mesti ekstra sabar menangani perilaku nyeleneh anak. Sebab bukan tidak mungkin sesudah diperingatkan, tapi anak tetap saja melakukan tindakan agresifnya.

6. MENGGANGGU AKTIVITAS ORANG DEWASA

Ada saja kelakuan si kecil yang sering membuat kesal orang tua, seperti meremas-remas lalu merobek-robek koran yang sedang dibaca. Atau, merecoki saat ibu sibuk di dapur. Perilaku semacam ini bisa jadi merupakan cara anak berkomunikasi dengan orang tuanya. Dengan kata
lain, perilaku yang mengesalkan tersebut merupakan pertanda anak sedang mencari perhatian dari orang tua.

Kesibukan orang tua berkutat dengan urusannya sendiri membuat anak merasa disisihkan. Itu sebabnya ia berusaha mengalihkan perhatian orang tua dengan cara mengganggu.
Agar tidak berlarut-larut, orang tua amat dituntut untuk peka membaca keinginan si kecil. Mau tidak mau orang tua harus meluangkan waktunya secara intens bersama si kecil, semisal bermain-main dengannya. Caranya, biarkan si kecil "membaca" dan mengeksplorasi isi koran.

Bahkan lewat aktivitas semacam ini orang tua bisa mengajarkan banyak hal bermanfaat kepada anak. Bila gangguan ini hanya dilakukan sesekali, bisa juga saat itu si anak sedang kesal tapi ia sendiri tidak tahu bagaimana caranya mengungkapkan kekesalan tersebut. Akhirnya, aktivitas orang tualah yang jadi sasaran. Untuk mengatasinya, mau tidak mau orang tua harus sejenak menghentikan aktivitasnya. Ciptakan aktivitas yang menyenangkan bersama si kecil. Setelah si kecil terlihat ceria, orang tua bisa kembali melanjutkan aktivitasnya. Saeful Imam/nakita

sumber : balita anda