Sejenak Menelusuri Dunia Teh
TEH
Mendengar nama ini, umumnya langsung membawa benak pada satu jenis minuman segar yang jamak disajikan panas maupun dingin.
Di Indonesia, teh (camellia sinensis) tidak hanya dapat dinikmati dalam wujud minuman yang menyegarkan. Bagi mereka yang hobi berjalan kaki manikmati pemandangan, berjalan menyusuri kebun teh (tea walk) dengan hawa pegunungan yang seolah membasuh wajah dan kulit tentu menjadi hal yang menyenangkan.
Tidak hanya sebagai sarana rekreasi, aktivitas ini juga dapat menyegarkan pikiran dari aktivitas atau rutinitas yang padat sehari-hari. Paling tidak pengalaman ini yang saya dapat dari ketika beberapa waktu lalu berkunjung ke perkebunan teh dan agrowisata Gunung Mas Bogor milik PT perkebunan VIII Jawa Barat. Dari Jakarta, tempat ini berjarak kurang lebih 80 km dan bisa dicapai dengan kendaraan umum yang tersedia.
Pagi hari menjadi waktu terbaik untuk menjalankan aktivitas ini. Selain hawa yang belum terlampau panas, pada saat itu kita bisa melihat para pemetik teh baru berangkat untuk menjalankan mata pencaharian mereka.
Sambil berjalan di antara pohon teh yang rata-rata tingginya sedikit di atas pinggang, setiap orang bisa memotret para pemetik teh yang tampaknya juga sudah terbiasa dengan kamera.
Lebih dari itu, kita juga bisa sejenak bercengkerama dengan para pemetik teh yang ramah dan murah senyum. Kalau kaki sudah terasa lelah, duduklah sejenak melemaskan otot sambil merasakan kembali terpaan angain pegunungan. Nanti, sekembalinya dari perjalanan menyusuri kebun teh, jangan lupa untuk menyeruput teh panas. Hmm...
Dari dulu
Teh sendiri buknalah jenis minuman yang baru, ia sudah menempuh perjalanan panjang.
Bila menilik dari sejarahnya, teh ditemukan di China pada masa dinasti Tang (abad ketujuh). Pertama menyebar sekitar China, Asia, India, dan Timur Tengah sebelum merambah ke Eropa pada abad keenam belas. Sampai sekarang, teh merupakan minuman yang banyak diminum di seluruh dunia. Bahkan ada yang menyebut bahwa lebih dari 1,5 miliar cangkir telah dikonsumsi per hari-nya.
Di beberapa budaya, teh juga memiliki simbol-simbol. Di benua Eropa, China, dan Jepang, teh menjadi simbol kemewahan, menghargai orang lain, intelektual, dan social high class.
Seiring dengan usianya yang hadir di muka bumi ini, teh juga turut ambil bagian dalam sebuah sejarah penting dari slah satu peradaban tua di dunia, yaitu China. Bermula dari terjadinya perebutan tahta kekuasaan di Dinasti Ming oleh Jenderal Li Zi Cheng, yang kemudian tertarik dengan kecantikan Chen Yuan Yuan, selir Jenderal Wu San Gui. Sang Jenderal baru pun jatuh hati dan membawa lari Chen.
Karena marah, dendam, dan cemburu, jenderal Wu membelot dan membatu pasukan dinasti Ching untuk menyerang kerajaan Ming.
Tidak bisa menghadapi taktik penyerangan Jenderal Wu, akhirnya kejayaan dinasti terkhir yang sudah berkuasa selama 276 tahun itu hancur karena seorang selir.
Selir Chen merasa sangat berdosa melihat kerajaan tersebut hancur karena dirinya. Akhirnya ia memutuskan untuk menjadi seorang rahib.
Pada malam terkhir dia menjadi seorang selir, Chen mengadakan jamuan perpisahan dan berdoa kepada Dewa Wong Hu. Saat itu digambarkan sang selir berjalan dengan angkuh menuju tea room diiringi dayang yang membawa payung kebesaran.
Setelah mendapatkan teh terbaik ini, teh ini pula yang dipersembahkan kepada Dewa Wong Hu
dan kemudian sang putri berganti dari baju kerajaan menjadi seorang rahib.
Diorama cerita ini pun dihidupkan kembali dalam acara The Art of Drinking Tea bertema “The Imperial Tea Ceremony for the Last Concubine of the Last Emperor” yang digelar oleh Dapur Babah Elite.
Cerita yang dimaikan di ruangan berdekorasi kain sutra bersulam emas dan berusia ratusan tahun, foto hitam putih kaisar, hingga patung China tersebut mungkin hanya berlangsung selama setengah jam. Tapi paling tidak kembali menyegarkan pikiran saya bahwa teh selain memiliki sejarah panjang, ia juga memiliki kelas tersendiri, layaknya jenis minuman yang lain.
Sumber : Kompas
No comments:
Post a Comment